Friday, January 11, 2019
Pneumatic Actuator
A. Actuator
Actuators
merupakan elemen aktivasi(powering element) di dalam sistem control pnumatik.
Actuator melakukan banyak pekerjaan dalam hal membangkitkan berbagai pergerakan
misalnya silinder dan motor pnumatik. Actuator merupakan piranti terakhir dari
untaian kontrol. Aktuator mengubah control signal ke dalam suatu kerja
tertentu.
Berikut ini
diberikan contoh actuatoryang banyak dijumpai di dalam industrial automation,
yaitu Cylinders, motors, lighting devices, heating devices, visual and acoustic
alarm devices, dan lain-lainnya. Seringkali, Elemen-elemen Final Control
seperti valves, contactors, power transistors, power thyristor dan lain-lainnya
disebut juga sebagai actuator, walaupun ada pula yang mengelompokkan dalam
kategori interface.
Koversi energi
pnumatik, dan energi listrik ke dalam mechanical work selalu dilakukan oleh
actuator. Ada tiga cara mengontrol actuator, yaitu: pneumatics, hydraulic, electrics.
Dilihat dari jenis pergerakannya, maka actuator dapat dikelompokkan menjadi 3
main areas, yaitu Linear motion, swivel motion, rotary motion, dn end
effectors. Lidan near motion dapat diperoleh dengan menggunakan pneumatic
cylinders dan electric actuators. Demikian juga rotary motion juga dapat diperoleh melalui pneumatic
motor dan electric motors.
Pneumatic
cylinders merupakan piranti yang banyak digunakan dalam membangkitkan linear force, work and power. Dalam hal ini, tekanan udara dikalikan dengan diameter silinder akan memberikan gaya tekan sedang volume udaranya akan menentukan kecepatan gerakannya. Dalam hal ini kombinasi antara force and motion akan menghasilkan suatu kerja tertentu.
Membuat gerakan
linear dengan elemen mekanik yang dioperasikan dengan tenaga listrik seringkali menjadi pekerjaan yang sangat rumit dan memerlukan banyak tenaga. Tetapi bila menggunakan pneumatic cylinder akan menyederhanakan pekerjaan tersebut dan juga hanya memerlukan sedikit energi. Metoda yangbiasa diterapkan untuk keperluan material handling, mencakup clamping, shifting, positioning, orienting, branching.
B. Macam-macam Cylinder Dalam Peneumatik
1. Single Acting Cylinder
Dalam single acting cylinder, udara tekan hanya disalurkan dari
satu sisi. Single acting cylinder hanya dapat menghasilkan kerja dengan satu arah, sehingga
tekanan udara hanya diperlukan dari satu arah. Untuk menggerakkan piston ke
arahi sebaliknya digunakan pegas atau daya tekan dari luar.
Pada single acting cylinder, suatu built-in spring didesain khusus
untuk mengembalikan piston ke posisi semula. Kekurangan single acting cylinder pergerakan
piston dibatasi oleh panjang pegas yang digunakan. Biasanya panjang langkah
piston berkisar antara 80 sampai 100 mm. Batang piston silinder kerja tunggal
bergerak keluar pada saat silinder menerima udara bertekanan. Jika udara bertekanan dihilangkan, secara otomatis piston kembali lagi ke posisi awal.
2. Double Acting Cylinder
Dalam double acting cylinder, gaya yang diperoleh dari udara
tekan, menggerakkan piston dari dua arah. Baik arah maju dan arah mundur menggunakan gaya
dari udara tekan. Double acting cylinder, digunakan pada aplikasi di mana
return motion diperlukan untuk menghasilkan fungsi tertentu. Pada prinsipnya,
langkah piston untuk double acting cylinder tidak terbatas, tetapi resiko
terjadinya buckling dan bending pada extended piston rod perlu menjadi pertimbangan.
Kecepatan silinder keluar dan masuk berbeda. Kenyataannya bahwa
volume silinder pada sisi batang piston lebih kecil daripada volume udara pada
sisi piston. Oleh karena itu volume suplai udara bertekanan selama arah masuk
lebih kecil dari pada arah keluar sehingga gerakan silinder arah masuk lebih
cepat daripada arah keluar. Jika tombol tekan dilepas sebelum silinder
keluar sampai langkah penuh, maka batang piston akan masuk kembali dengan
segera. suatu peralatan dan rangkaian kendali dari suatu instalasi yang
lengkap, meliputi diagram tata letak, diagram pengawatan, diagram jaringan dan
diagram skematik.